Bandara Bali Utara dan Pemerataan Ekonomi Bali
Senin, 26 Agustus 2019
Maya Miranda Ambarsari
Bagikan

Bandara Bali Utara dan Pemerataan Ekonomi Bali

Bali memiliki banyak keistimewaan dibanding pulau-pulau lain yang ada di Indonesia, salah satunya adalah pesona keindahan alamnya seperti pantai dan laut. Selain itu juga letak geografis Bali yang jauh dari kemungkinan terjadinya gempa membuat pulau ini menjadi semakin menawan dan diminati oleh banyak wisatawan. Dari tahun ke tahun wisatawan yang berkunjung ke Bali kian meningkat dan semakin memadati jalanan kota, terutama saat liburan.

Rata-rata jalan yang paling sering dipadati adalah akses transportasi Bali bagian selatan yang sering dilalui untuk menuju kawasan pantai dan kawasan perbukitan di mana di bukit tersebut berdiri sebuah perguruan tinggi negeri yang paling terkenal di Bali. Sudah bisa ditebak siapa saja yang melewati jalan tersebut. Mahasiswa dengan wisatawan beradu, berebut jalur satu sama lain agar cepat sampai di tujuan. 

Oleh karena itu, Gubernur Bali Made Mangku Pastika berinisiatif untuk membuat jalan tol yang berdiri di atas Laut Benoa. Selain untuk mempermudah akses jalan menuju kawasan wisata, tol ini juga dibuat untuk mempermudah akses menuju lokasi KTT APEC 2013 yang diadakan di Nusa Dua. Tol ini diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 23 September 2013.

Namun keberadaan jalan tol tersebut tidak banyak membantu mengurai kemacetan, dan berpotensi memindahkan kemacetan dari jalan utama ke jalan tol tersebut. Terbukti pada awal 2018 tercatat sebanyak 40.000 kendaraan per hari menggunakan akses jalan tol tersebut. Tujuan awal untuk memangkas waktu akibat kemacetan, yang terjadi justru kepadatan terkonsentrasi pada pintu tol yang menyebabkan panjangnya antrean kendaraan tiap harinya. 

Hal tersebut diperparah dengan adanya peningkatan jumlah wisatawan yang masuk ke Bali melalui akses jalur udara yang dilayani oleh Bandara Internasional Ngurah Rai. Sebanyak 5,17 juta wisatawan masuk ke Bali pada awal 2018 yang artinya terjadi laju peningkatan kunjungan sebesar 7% dari tahun sebelumnya. Sebagai konsekuensinya, kini kemacetan justru terjadi secara masif dan terkonsentrasi pada Simpang Tugu Ngurah Rai mulai dari yang berdatangan dari arah Denpasar, Nusa Dua, dari Bandara Ngurah Rai, maupun yang akan menuju Tol Bali Mandara.

Pemerintah Provinsi Bali kemudian berinisiatif membangun underpass pada Simpang Tugu Ngurah Rai, namun hal tersebut hanyalah akan menjadi fasilitas baru yang juga memiliki potensi untuk memindahkan kemacetan ke daerah lain. Jika ditinjau dari peningkatan kunjungan wisatawan setiap tahunnya sebesar 7% dan dengan fakta bahwa masih tingginya animo wisatawan baik domestik maupun mancanegara yang ingin berwisata ke Bali, maka laju peningkatan tersebut akan terus bertambah setiap tahunnya. 

Diperparah dengan adanya peningkatan jumlah kendaraan bermotor di Bali sebesar 16,7% per tahun, maka akses transportasi yang menggantikan peran jalan arteri primer seperti underpass maupun flyover tidak akan memberikan dampak yang signifikan untuk mengurai kepadatan khususnya di wilayah sekitar Bandara Internasional Ngurah Rai. Oleh karena itu, perlu ada fasilitas transportasi lainnya yang berfungsi untuk mengalihkan pusat kepadatan dan mencegah terjadinya sentralisasi di daerah urban. Maka dari itu muncul ide pembangunan Bandara Internasional Bali Utara yang terletak di daerah Kubutambahan.

Pembangunan Bandara Internasional Bali Utara sebenarnya sudah diwacanakan sejak 2004 dan dicetuskan oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata saat itu, Jero Wacik. Seharusnya kini proyek pembangunan Bandara Internasional Bali Utara sudah mulai dikerjakan mengingat pentingnya keberadaan bandara ini untuk memuluskan jalan Bali menuju pertumbuhan ekonomi yang pesat dan pemerataan ekonomi. Namun dalam pengerjaannya justru terjadi permasalahan seperti rumor adanya perseteruan antara kontraktor yang akan mengeksekusi proyek bandara sehingga perjalanan Bali untuk memiliki akses transportasi terbarukan terhambat tanpa adanya kejelasan. 

Padahal jika ditinjau dari Peraturan Menteri Nomor 20 Tahun 2014 tentang Prosedur Penetapan Lokasi Bandar Udara, seluruh persyaratan yang menjadi kriteria pembangunan bandara sudah dipenuhi Bandara Internasional Bali Utara tersebut. Pembangunan Bandara International Bali Utara akan mengambil 600 hektar lahan di Kubutambahan, Kabupaten Buleleng dengan investasi sebesar Rp 28 triliun. Jumlah tersebut adalah jumlah yang fantastis yang seharusnya semakin memantapkan Pemerintah Provinsi Bali untuk memberikan jalan selebar-lebarnya untuk pembangunan Bandara tersebut. 

Bandara Bali Utara merupakan salah satu potensi terbaik yang akan memberikan solusi atas permasalahan kemacetan di wilayah Bandara Internasional Ngurah Rai dan mencegah terjadinya sentralisasi di Kota Denpasar terutama dari segi ekonomi dan tata kota. Dengan adanya Bandara Bali Utara, maka perekonomian di wilayah Bali Utara seperti diterpa angin sepoi-sepoi yang sangat menyegarkan karena berpotensi menciptakan ladang usaha baru dalam skala besar untuk masyarakat sekitar terutama dari segi pariwisata.

Selain itu dengan adanya Bandara Internasional Bali Utara, maka suplai logistik yang masuk ke wilayah Buleleng dan sekitarnya menjadi sangat lancar karena pengiriman logistik terutama dari luar Bali bisa dicapai hanya dalam hitungan jam. Tidak perlu lagi menghitung berapa hari waktu yang dibutuhkan untuk mengirimkan barang dari Bandung ke Buleleng yang mana jika kondisi sekarang, barang akan masuk terlebih dahulu ke Bandara Ngurah Rai dan dibutuhkan waktu tambahan kurang lebih 3 hari untuk barang tersebut sampai di Buleleng. 

Hal tersebut dikarenakan akses dari Denpasar untuk sampai di Buleleng masih minim yang hanya di fasilitasi ruas jalan raya antarkabupaten, yang sangat tidak praktis untuk pengiriman logistik. Keuntungan lainnya dari adanya Bandara Bali Utara adalah jenis penerbangan menuju Bali maupun ke luar Bali lebih beragam sehingga overload yang terjadi di Bandara Internasional Ngurah Rai menjadi dapat teratasi dengan baik.

Jika berbicara dari segi tata kota, Kabupaten Buleleng merupakan salah satu kabupaten dengan wilayah terluas di Bali yang memiliki pusat ibu kota di Singaraja. Dilihat dari kondisi eksisting, masih terdapat banyak lahan kosong yang bertebaran di Buleleng menandakan bahwa kondisi perekonomian Kabupaten Buleleng masih tertutup oleh awan kelabu yang harus segera disingkirkan sehingga Buleleng dapat bersinar kembali seperti sedia kala. Who knows? 

Dengan adanya Bandara Bali Utara, perekonomian Buleleng akan mekar kembali dan menunjukkan sinar emasnya, wirausaha-wirausaha baru mulai bermunculan, Gross Domestic Product meningkat, UMR meroket, dan yang paling penting adalah masyarakat Bali Utara yang kini bekerja di Denpasar atau daerah Bali Selatan lainnya tidak perlu lagi merantau jauh dari kota kelahiran mereka. Mereka bisa pulang ke kampung halamannya untuk merintis usaha dan memulai perjalanan baru dalam upaya pengembangan Kabupaten Buleleng.

Siapa yang akan menyangka, jika sekarang Kabupaten Buleleng tidak banyak diminati oleh investor, namun dengan adanya Bandara Bali Utara banyak investor yang berbondong-bondong menanamkan modalnya pada pengembangan Kabupaten Buleleng yang akan memperbaiki kondisi perekonomian di wilayah tersebut. Jika hal itu terwujud, maka Provinsi Bali akan memiliki satu kabupaten yang hampir menyerupai Dubai dan Singapura, karena kedua negara tersebut juga dulunya tidak banyak diminati oleh investor maupun pengembang, namun sekarang perkembangannya bahkan jauh lebih masif dan menjadi nomor wahid di dunia dalam hal sustainable citydevelopment dibanding negara-negara di sekitarnya. 

Bandara Internasional Bali Utara adalah suatu keharusan jika masyarakat Bali menginginkan pertumbuhan ekonomi Bali yang tinggi dan pemerataan pembangunan di wilayah Provinsi Bali. Tidak ada yang dirugikan dalam pembangunan bandara tersebut. Bahkan perkembangan ekonomi akan semakin meningkat dan pesat karena ada dua gerbang masuk wisatawan ke dalam Bali sehingga pesawat yang membawa wisatawan tidak perlu lagi mengantre berjam-jam untuk dapat mendarat di Bandara Internasional Ngurah Rai yang sudah penuh dan sesak.

Inilah solusi terbaik yang seharusnya dipikirkan bahkan dilaksanakan oleh pemerintah sekarang baik pemerintah pusat, pemerintah provinsi ,maupun pemerintah kabupaten dalam rangka mengurangi kepadatan dan overloadyang terjadi di wilayah Bali Selatan. Selain mengurangi kecenderungan terjadinya sentralisasi perekonomian, yang kini terfokus pada Bali Selatan, solusi ini juga akan menjadi harapan baru bagi warga Bali Utara yang sudah lama memimpikan perkembangan ekonomi di wilayah asal mereka. 

Tenaga kerja yang sebelumnya terkonsentrasi di Bali Selatan akan mulai beralih ke Bali Utara, pengusaha-pengusaha baru akan bermunculan karena melihat adanya kesempatan yang besar untuk mendirikan usaha, investor maupun pengembang akan bermunculan karena melirik indahnya Bali Utara yang memiliki segudang pesona alam dan potensi sumber daya yang dapat dikembangkan. Dengan demikian, maka langkah pemerataan pembangunan dan pengembangan ekonomi yang sejak dulu sudah didengungkan oleh pemerintah pusat akan segera terealisasi dengan baik dan bukan hanya isapan jempol belaka. 

Saya sebagai anak muda Bali sangat setuju dengan adanya Bandara Internasional Bali Utara, karena dapat menjamin masa depan anak muda Bali, terutama di bagian Bali Utara, yang menginginkan pertumbuhan ekonomi yang pesat dan memberikan lapangan pekerjaan yang luas sehingga semua anak muda Bali kelak ke depannya tumbuh menjadi kekuatan baru yang mampu menyokong perekonomian Bali.

sumber : https://news.detik.com/kolom/d-4659043/bandara-bali-utara-dan-pemerataan-ekonomi-bali

Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar